Table './u5609_bapos_2007/tb_comments' is marked as crashed and last (automatic?) repair failedTable './u5609_bapos_2007/tb_comments' is marked as crashed and last (automatic?) repair failedBangkaPos.cetak :: Gerbang Informasi Kepulauan Bangka Belitung
Sorotan
Ir Kemas Rifian Abu Hanifah MT - Pakar Turbin ITB
Turbin Angin Super
Bantu Babel Dari Krisis Listrik

edisi: 27/Dec/2009 wib
KEBUTUHAN akan energi listrik dan upaya-upaya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM), baik bagi masyarakat maupun bagi pemerintah saat ini sudah sangat mendesak.
Makin lama keadaan ini berlangsung, maka keadaannya akan semakin parah. Tidak hanya rakyat yang menderita, tetapi pemerintah pun sudah sangat terbebani.

Bangka Pos/Edwardi
Ir Kemas Rifian Abu Hanifah MT - Pakar Turbin ITB
Upaya-upaya penghematan penggunaan listrik dan pemadaman aliran listrik secara bergilir saat ini, menunjukkan bahwa untuk mempertahankan ketersediaan listrik yang ada sekarang pun kita sudah tidak sanggup lagi. Kalau keadaan ini tidak segera ditangani secara tepat dan cepat, kita tidak akan mungkin dapat memenuhi target pencapaian kebutuhan listrik pada masa depan.

Krisis listrik yang akhir-akhir ini terjadi juga di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengetuk kepedulian Ir Kemas Rifian Abu Hanifah MT, seorang pakar turbin angin dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Putra asal Babel, kelahiran Koba Bangka Tengah yang kini menjadi dosen sekaligus peneliti bidang perancangan konstruksi ITB ini, menawarkan solusi Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA) menggunakan Turbin Angin Super (TAS) untuk masyarakat di Bangka Belitung. Rifian telah mempresentasikan idenya itu dalam seminar terbuka yang digelar di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang, Senin (14/12) lalu.

Rifian mengatakan rasio elektrifikasi kebutuhan listrik per wilayah di Indonesia masih cukup tinggi. Di Bangka Belitung sendiri, menurut dia, hingga tahun 2013 nanti diperkirakan baru mencapai 87,1 persen. Karena itu ia terpanggil untuk menyumbangkan ide dan tenaga demi membantu Babel keluar dari krisis listrik berkepanjangan dengan menggunakan PLTA.

Berikut ini hasil wawancara wartawan Bangka Pos Group, Edwardi dengan Ir Kemas Rifian Abu Hanifah MT melalui surat elektronik :

Sejak kapan mulai menggeluti PLTA (angin) Turbin Angin Super (TAS)?

Sejak tahun 2004

Dari mana idenya?
Idenya muncul dari contoh pemanfaatan energi angin oleh bangsa-bangsa lain sejak zaman dahulu kala sampai dengan sekarang.

Apa keunggulan dan kerugian PLTA TAS?
Pembangkit Listrik Tenaga Angin yang saya rancang dan buat diberi nama Turbin Angin Super (TAS).
Keunggulan : ringan, terbuat dari bahan yang tahan korosi, dapat beroperasi pada siang hari, malam hari, keadaan hujan maupun panas, relatif murah, mulai menghasilkan listrik pada kecepatan angin yang sangat rendah, tetapi dapat beroperasi pada kecepatan angin yang sangat tinggi, pemasangan dan perawatannya mudah.            
Kerugian : Investasi awal terasa sedikit lebih mahal.

Apakah produk ini sudah dipatenkan, ada berapa jenis yang sudah diciptakan, berapa daya listrik yang dihasilkan, berapa harganya?
Produk ini sedang dalam proses pengurusan hak paten. Ada 4 jenis produk yang sudah dirancang dan dibuat. Mulai dari 150 Watt sampai dengan 1800 Watt. Harga akan relatif lebih murah dibandingkan dengan PLTS.

Berapa kecepatan angin minimal yang biasa digunakan untuk produk ini?
Mulai berputar dan menghasilkan listrik pada kecepatan angin 2,5 m/s (meter/detik)

Apakah untuk wilayah Provinsi Babel cocok menggunakan produk ini?
Cocok, terutama untuk daerah yang dekat pantai, daerah terbuka atau  pada lokasi yang relatif tinggi.

Sudah adakah orang/perusahaan di Babel yang menggunakan produk ini?
Belum ada

Bagaimana cara pengoperasiannya?
Setelah instalasi terpasang, maka penggunaannya persis seperti listrik PLN di rumah (on/off saklar)

Mudahkah perawatan dan suku cadangnya?
Produk dirancang agar perawatan sesedikit mungkin, cukup hanya pemeriksaan aki (accu) secara rutin jika menggunakan aki basah. Suku cadang selalu tersedia.

Berapa lama daya tahan produk ini?
Lebih dari 10 tahun

Apakah produk ini sudah diproduksi secara massal, dimana membelinya?     
Produk ini dibuat berdasarkan pesanan. Dapat dibeli melalui website www.turbinanginsuper.com

Bisakah produk ini dibuat dalam ukuran yang besar, sehingga pembangkit ini bisa dijual energi listriknya secara massal, seperti pembangkit listrik PLN?
Bisa, tetapi memerlukan biaya yang relatif mahal dan pemerintah daerah harus turun tangan.

Daerah mana saja yang menggunakan produk ini?
Pemda Provinsi Sulawesi Selatan dan Litbang TNI.

Apakah kelebihan produk ini jika dibandingkan dengan produk sejenis dari luar negeri ?
Produk ini dirancang menggunakan teknologi kecepatan angin rendah, sehingga cocok untuk daerah-daerah di Indonesia yang umumnya memiliki kecepatan angin rata-rata yang relatif rendah. Pada kecepatan angin sedang dan tinggi, produk ini sangat efisien dalam mengubah energi angin menjadi energi listrik.

Mengapa turbin angin yang dibuat berbasis kecepatan angin rendah ?
Kecepatan angin rata-rata di sebagian besar wilayah Indonesia umumnya di bawah 5 m/s ( < 18 km/h ). Hanya sedikit daerah yang kecepatan angin rata-ratanya > 5 m/s. Oleh sebab itu, agar dapat digunakan di seluruh wilayah Indonesia, maka turbin angin sebaiknya dirancang berbasis kecepatan angin rendah.

Apakah kecepatan angin rendah ( < 4 m/s ) masih ekonomis bila dikonversi menjadi energi listrik oleh turbin angin ?

Ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan saat ini sudah memungkinkan untuk membuat turbin angin ekonomis pada daerah kecepatan angin rendah. Tidak usah jauh-jauh berguru ke India atau negara negara lain. Kita, bangsa Indonesia, memiliki hampir semua ahli dan kita (para ahli) bisa lebih baik dari mereka jika diberi kesempatan dan dana.

Apakah turbin angin berteknologi kecepatan angin rendah itu ?
Turbin angin berteknologi kecepatan angin rendah adalah turbin angin yang dirancang dan dibuat dengan memperhatikan dan memperhitungkan hal-hal berikut :
* Rotor atau blade turbin haruslah sangat ringan bobotnya serta memiliki airfoil dan bentuk yang mampu mengekstraksi energi angin semaksimal mungkin.
* Diameter rotor harus relatif besar.
* Kerugian energi pada sistem transmisi dibuat seminimal mungkin.
* Menggunakan generator magnet permanen yang sudah sangat efisien.

Berapakah besar energi angin yang dapat diekstraksi oleh rotor suatu turbin angin sumbu horizontal yang sangat efisien ?

Turbin angin kecil yang moderen memiliki ciri, antara lain : sangat efisien, ringan, relatif murah, komponen-komponen putarnya sedikit, hampir tanpa perawatan, tiang penyangga hanya menggunakan pipa baja (bukan struktur yang besar seperti yang sering kita lihat) dan dapat beroperasi pada berbagai kecepatan angin, mulai dari angin dengan kecepatan sangat rendah (< 3 m/s), kecepatan rendah (3 s/d 4 m/s), kecepatan sedang (4 s/d 5 m/s) sampai dengan kecepatan tinggi (> 5 m/s). Bahkan pada kondisi angin ribut dan hujan lebat pun turbin tetap beroperasi. (*)


Dikira Anak Bupati


SUMBER daya manusia asal Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ternyata cukup banyak yang hebat dan memiliki keahlian di tingkat nasional maupun internasional. Salah satunya, yakni Ir Kemas Rifian Abu Hanifah MT puluhan tahun meninggalkan Pulau Bangka akhirnya berhasil berkarir sebagai dosen dan pakar turbin ITB yang menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Angin yang dinamakan Turbin Angin Super.

Baru-baru ini Rifian pulang ke Babel mempresentasikan hasil karyanya dalam seminar Pembangkit Listrik Tenaga Angin menggunakan Turbin Angin Super (TAS) di Hotel Bumi Asih Pangkalpinang, Senin (14/12).

Banyak orang di Babel mengira nama Abu Hanifah yang berada di belakang nama Kemas Rifian adalah nama ayahnya, yang saat ini menjabat sebagai Bupati Bangka Tengah (Abu Hanifah) ternyata bukan, hanya kebetulan sama namanya. Ayah Rifian, Abu Hanifah juga seorang birokrat sebagai camat pada era tahun 70-an.
Kemas Rifian adalah putra ke-7 dari almarhum Bapak Kemas Abu Hanifah bin Kemas Adil dengan almarhumah Ibu Nuriah binti Mat Ahim.

(Mungkin pembaca tahu Masjid Kemas Adil di Jalan Baru itu adalah masjid kakek atau yai saya). Ayah Rifian, Kemas Abu Hanifah pernah menjadi camat di Petaling dan Lepar Pongok Kabupaten Bangka pada era tahun 70-an.

Rifian pergi meninggalkan Pulau Bangka pada tahun 1976, pindah ke Bandung pada saat naik ke kelas II SMA.
Karena mengikuti orangtua, maka saat SD ada 5 lima sekolah yang dijalani, yakni di Sungailiat, Pangkalpinang, Lepar Pongok, Sungailiat kembali, lalu Petaling. Lulus dari SD Negeri 1 Petaling pada tahun 1972, kemudian melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 Pangkalpinang lulus pada tahun 1975. Selanjutnya kelas 1 di SMA Negeri 1 Pangkal Pinang kemudian pindah ke SMA Negeri 1 Bandung dan lulus tahun 1979, lalu diterima masuk Teknik Mesin ITB, lulus S1 tahun 1985. Kemudian belajar S2 di Teknik Mesin ITB, bidang Desain & Prancangan, lulus tahun 1989. Di samping itu pendidikan di luar negeri ke International Welding Engineer, tahun 1996 dan European Welding Engineer, tahun 1996.
Bagaimana riwayat pekerjaan?

Sejak tahun 1987 menjadi dosen di Teknik Mesin ITB sampai dengan sekarang. Menjadi konsultan/trainer/staf ahli di berbagai industri dan BUMN, seperti : PT Krakatau Steel, PT Pupuk Kaltim, PT Badak LNG, Pertamina, Cilegon Fabricator, PT Mattel Indonesia, Indonesia Power, Balai Besar Logam dan Mesin, Balai Besar Bahan dan Barang Teknik, dll.

Rifian menikah dengan Ariany bin Muchtar (kampung halamannya di Bukit Baru Pangkalpinang) pada tahun 1986 dan memiliki putera/puteri 3 orang.  (edwardi)


Komentar untuk "Bantu Babel Dari Krisis Listrik"
Komentar Anda:
Salin karakter yang terlihat di kotak atas.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Breaking News TV
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort