Table './u5609_bapos_2007/tb_comments' is marked as crashed and last (automatic?) repair failedTable './u5609_bapos_2007/tb_comments' is marked as crashed and last (automatic?) repair failedBangkaPos.cetak :: Gerbang Informasi Kepulauan Bangka Belitung
Sikap Kami
Dampak BLT
edisi: 23/Mar/2009 wib
BANTUAN Langsung Tunai (BLT) mulai dibagikan. Untuk Bangka Belitung baru jatah Pangkalpinang sebanyak 3.544 rumah tangga sasaran (RTS). Tiap RTS mendapat jatah Rp 200 ribu.

Sedangkan RTS kabupaten di Babel harus bersabar. Jumlah RTS di 6 kabupaten itu sekitar 28.000-an masih harus menunggu.

Inilah yang membedakan pencairan dana BLT yang ketiga kalinya. Dua BLT sebelumnya dibagikan secara serentak.

Ada kesan pembagian yang ketiga itu mendadak. Itu diakui oleh aparatur yang bertugas membagikan.

Jumlah dana yang diterima warga kurang mampu pun tak sebesar dua kali pembagian sebelumnya, yang berkisar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu.

Banyak warga kurang mampu yang tidak tahu bahwa BLT bakal dibagikan kembali. Mungkin karena kurangnya sosialisasi atau memang karena sifatnya yang mendadak tadi.

Pembagiannya yang mendekati masa pemilu, membuat orang berasumsi ada kepentingan di balik pembagian BLT.

Kebijakan pembagian BLT adalah sebuah bentuk kompensasi dari penaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Banyak yang kurang setuju atas kebijakan itu karena memang kurang mendidik.

Sisi positifnya mungkin bisa membantu masyarakat miskin tapi sifatnya hanya tentatif.

Kesulitan masyarakat karena penaikan harga BBM diasumsikan bisa sedikit dikurangi dengan BLT. Tapi, ketika harga BBM turun, apa kebijakan itu masih layak diterapkan?

Tapi yang patut dikhawatirkan adalah dampak negatif BLT terhadap prilaku dan karakter masyarakat.

Sangat riskan, masyarakat menjadi manja. Kita tentu tidak ingin menjadi bangsa peminta-minta, yang hanya menadahkan tangan berharap uang mengucur dari langit.

BLT juga bisa tidak efektif dan tepat sasaran. Kalau sasaran kebijakan itu adalah masyarakat miskin, kenapa yang menerima BLT ada saja yang datang membawa sepeda motor yang mulus atau di lehernya perhiasan emas menggelantung?

Ada banyak alasan yang bisa menjadi penyebab tidak efektifnya program BLT. Salah satunya, adalah nominal BLT yang terlalu seragam. Padahal tiap daerah kondisi perekonomiannya berbeda.

Program pemerintah memberi bantuan berupa BLT bukan mengurangi kemiskinan secara struktural.

Kebijakan ini masih jauh dari kesan promasyarakat. Terkesan BLT keputusan politik yang berorientasi untuk memertahankan citra pemerintah seolah-olah pro masyarakat.

Soal bantuan ke masyrakat miskin ini seharusnya belajar dari pepatah lama. Sejak di bangku sekolah dasar kita diajarkan jangan memberi ikan, tapi kailnya. Pepatah ini mengajarkan pentingnya sebuah usaha dan jerih payah.

Mengapa pemerintah kita justru membuat program BLT, seperti memberikan ikan bukan pancing. Karena terlalu sering akhirnya mental masyrakat pun jadi rusak. Masyarakat diajarkan menjadi pemalas.

Sebagaimana rusaknya mental masyarakat Aborigin di Asutralia akibat pemerintah meluncurkan welfare programs yang mirip BLT. Apa yang terjadi? suku Aorigin merasa kehilangan peran.

Terjadi tingkah laku sosial destruktif, seperti kekerasan dalam keluarga, alkohol, narkoba bahkan sampai membunuh dan bunuh diri.

Kaum lelaki Aborigin kehilangan peran sebagai pencari nafkah bagi keluarga. Mereka merasa tak perlu lagi berburu di hutan dan bekerja di kebun. Tiap bulan pasti ada dana bantuan sosial dari pemerintah bagi keluarga miskin.

Program semacam itu merusak mental dan semangat kerja suku Aborigin. Para suami miskin menganggap kehidupan sosial tetap berjalan sekalipun mereka mati.

Sebaliknnya, anak-anak berpikir ayahnya tak berguna. Mereka bahkan menjadi malu karena ayahnya penganggur, hidup hanya dari dana kompensasi pemerintah.

Padahal suku Aborigin sebelum emigram kulit putih tiba di Australia adalah kesatria yang tangguh, pantang menyerah, menguasai alamnya, pandai berburu untuk menghidupi keluarganya.

Usia mereka pun panjang mencapai 70 sampai 80 tahun. Mari kita belajar dari program tak mendidik itu. (*)

Komentar untuk "Dampak BLT"
Komentar Anda:
Salin karakter yang terlihat di kotak atas.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Breaking News TV
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort