Table './u5609_bapos_2007/tb_comments' is marked as crashed and last (automatic?) repair failedTable './u5609_bapos_2007/tb_comments' is marked as crashed and last (automatic?) repair failedBangkaPos.cetak :: Gerbang Informasi Kepulauan Bangka Belitung
Opini
Kelekak, Tradisi dan Budaya Penghijauan

Penulis: Oleh: Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd. Dosen Universitas Bangka Belitung
edisi: 20/Nov/2010 wib
Mengingat banyaknya fungsi kelekak maka dipandang perlu untuk pelestarian kelekak

PROVINSI Kepulauan Bangka Belitung yang terkenal akan timah dan lada putihnya memiliki tradisi agraris. Komoditas lada adalah tanaman pokok agraris bagi masyarakat Bangka Belitung, selain bertanam padi di ladang. Selanjutnya, pada lahan kebun lada tersebut, masyarakat mulai menanam tanaman keras yang memiliki fungsi ganda. Ada semacam tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Bangka Belitung yaitu memberikan ‘tanda’ kepemilikan lahan dengan menggunakan tanam tumbuh seperti jenis tanaman keras. Sementara itu, penandaan lahan dimanfaatkan juga untuk melestarikan lingkungan tanah pertanian sehingga tidak menjadi lahan kritis. Budaya menanam tanaman keras ini oleh masyarakat setempat dinamakan budaya kelekak.

Seiring perkembangan zaman kelekak sedikit demi sedikit mulai tergusur. Segala sesuatu mudah didapatkan dengan cara instan, sehingga masyarakat lebih tertarik dengan hal tersebut daripada harus menunggu bertahun-tahun lamanya untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Kelekak atau sebutan lainnya kelekak kelukoi atau kelekak lukot adalah sebidang tanah yang ditanami secara sadar oleh para orangtua zaman dahulu dengan beragam pohon penghasil buah (tumbuhan khas daerah), baik yang dimiliki secara pribadi (garis keturunan tertentu) maupun dimiliki secara bersama (milik orang banyak atau wakaf).

Tujuan penanaman tersebut agar kelak pohon-pohon yang ditanam dapat dipetik oleh anak cucu mereka atau masyarakat luas di masa yang akan datang. Karena itu, kelekak sering dikonotasikan dengan  makna kelak kek ikak (dalam bahasa Melayu Bangka yang berarti nanti untuk kalian). Kalian di sini maksudnya untuk anak cucu si penanam tanaman tersebut. Kelekak merupakan kebiasaan orang Bangka Belitung khususnya masyarakat Melayu.

Berbagai jenis tanaman kelekak banyak ditemui di Bangka Belitung diantaranya  durian, duku, cempedak, rambutan, rembia, manggis dan banyak lagi jenis tanaman lainnya. Pada umumnya tanaman kelekak tersebut dapat dimakan.

Kelekak yang telah menghasilkan buah dilakukan dengan sistem bagi hasil. Ada beberapa cara bagi hasil kelekak    di antaranya sistem bagi rata,  sistem bagi menurut agama, sistem cucok batek,  dan sistem borongan. Buah-buah kelekak tersebut diperoleh dari beberapa jenis kelekak. Ada yang menamakannya jenis kelekak jiret,  kelekak usang, kelekak urang banyak,  dan kelekak kelukoi.

Bagi masyarakat Bangka Belitung fungsi kelekak di antaranya sebagai uji kesabaran, simbol bagi masyarakat/individu, warisan dari orang tua untuk anak-cucuknya, wadah mempererat persatuan antarwarga, pemanfaatan sumber daya hutan tanpa merusaknya, fungsi ekonomi, budaya, dan wisata.

Di antara fungsi tersebut yang sering diidentikkan dengan kelekak adalah budaya  kesabaran untuk menunggu. Budaya kesabaran diwakili saat menunggu durian. Masyarakat Indonesia pasti mengenal durian. Buah berduri tersebut banyak digemari masyarakat Indonesia. Hanya saja ada perbedaan dalam hal memetik buah durian. Teknik memetik durian di daerah Jawa kebanyak menggunakan gala atau dipanjat. Lain halnya di Bangka Belitung memetik buah durian dengan jalan ditunggui. Artinya siapa saja yang memiliki buah durian dan salah satu dari buah tersebut telah jatuh maka yang memiliki pohon tersebut harus menunggunya dari hari ke hari bahkan malam hari hingga buahnya habis.

Budaya menunggu durian ini sudah ada sejak lama. Bahkan ada pantangan kalau memanjat buah durian saat berbuah maka diyakini pada tahun berikutnya pohon durian tersebut akan berbuah tetapi agak berkurang bahkan ada yang tidak berbuah. Karena adanya pantangan inilah masyarakat di Bangka Belitung selalu menunggu durian tersebut.

Mengingat banyaknya fungsi kelekak maka dipandang perlu untuk pelestarian kelekak. Ada beberapa cara pelestarian kelekak di antaranya melaksanakan wisata kelekak,  melaksanakan pesta buah kelekak seperti pesta buah durian, dan melakukan revitalisasi kelekak. Adanya usaha untuk menjadikan kelekak sebagai wisata kelekak sangat menarik bahkan dijadikan contoh agar kelekak di Bangka Belitung tidak hanya diambil hasilnya tetapi juga dijadikan sebagai objek wisata yang cukup menarik.

Sebagai contoh wisata kelekak yang akan dikembangkan di Bangka Barat   di desa areal hutan antara desa Simpang Gong, Pelangas, dan Pangek Kecamatan Simpangteritip.

Objek wisata kelekak mengedepankan keutuhan alam mulai dari hutan termasuk kandungan di dalamnya. Saat ini hutan di antara ketiga desa tersebut sarat dengan hasil buah-buahan seperti durian, cempedak, duku, rambai, dan sebagainya. Bahkan dari hutan kelekak tersebut bersarang juga lebah baik yang menghasilkan madu manis maupu  madu yang rasanya pahit karena menghisap bunga kayu pelawan.

Areal hutan kelekak di wilayah Simpang Gong yang posisinya berdampingan dengan hutan kelekak desa Pelangas dan Pangek, luasnya lebih kurang 30-an hektar. Tiga puluh hektar itu baru hutan kelekak Simpang Gong, kalau gabung dengan hutan kelekak Pelangas dan Pangek, luasnya bisa ratusan hektar. Di dalam hutan kelekak ini umumnya kebun masyarakat, ada yang ditanami karet, tapi di dalamnya didominasi pohon durian dan cempedak. Kalau kelekak yang di Pelangas dan Pangek selain durian, cempedak disana juga ada duku, rambai dan lain-lainnya, tapi secara umum didominasi durian.

Dengan demikian, tradisi bercocok tanam kelekak tersebut memang dapat membantu penghijauan di Bangka Belitung karena  pohon yang menghasilkan buah dan dapat dimakan sayang untuk ditebang. Selain memiliki tujuan konsumtif bagi generasi yang akan datang, kelekak bagi orang-orang tempo dulu juga memiliki tujuan ekologis, yakni merupakan upaya pelestarian lingkungan agar tidak gundul setelah sebelumnya dibuka kebun lada atau tanaman padi. Inilah sebuah kearifan lokal orang-orang tempo dulu agar bekas kebun yang ditinggalkan tidak menjadi gundul dan hijau kembali seperti semula.***

** Tulisan ini merupakan bagian dari makalah yang akan disampaikan pada Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara  di Pangkalpinang, 19 sampai dengan 22 November 2010.
Komentar untuk "Kelekak, Tradisi dan Budaya Penghijauan"
Komentar Anda:
Salin karakter yang terlihat di kotak atas.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Breaking News TV
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort