Table './u5609_bapos_2007/tb_comments' is marked as crashed and last (automatic?) repair failedTable './u5609_bapos_2007/tb_comments' is marked as crashed and last (automatic?) repair failed
BangkaPos.cetak :: Gerbang Informasi Kepulauan Bangka Belitung
- Lima Rusak Berat - 20 Bagan Hancur - 8 KK Ngungsi - 20 Meter Talud Bobol - Di Kurau Belasan Bagan
edisi: 16/Jan/2009 wib
PANGKALANBARU, BANGKA POS - Angin kencang dan gelombang tinggi tidak hanya menenggelamkan kapal pembawa sembako di sekitar Pulau Ketawai, Kurau, Kecamatan Koba, Rabu (14/1) pagi. Empat kapal nelayan yang sedang ditambatkan di perairan Desa Batubelubang, Kecamatan Pangkalanbaru turut tenggelam karena terjangan gelombang.
Selain itu, sedikitnya lima kapal rusak berat akibat benturan sesama kapal. Gelombang dengan ketinggian mencapai empat meter itu juga menghancurkan sekitar 20 bagan nelayan Desa Batubelubang. Kayu-kayu bagan berhamburan di tengah laut.
Belasan rumah warga di sekitar pesisir Batubelubang terendam air laut dengan kedalaman sekitar 30 cm. Delapan kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi karena khawatir gelombang makin tinggi. Sementara talud yang dipasang tahun 2007 tidak kuat menahan gelombang, bahkan sepanjang 20 meter ikut hancur diterjang air laut.
Kepala Desa (Kades) Batubelubang, Sarjono yang ikut mengungsi memperkirakan kerugian yang dialami warganya lebih dari Rp 200 juta, karena salah satu kapal tenggelam berharga di atas Rp 100 juta. “Kerugian paling banyak itu dialami Pak Andi Usman. Harga kapalnya lebih dari Rp 100 juta karena dilengkapi GPS dan terbuat dari fiber,” kata Sarjono kepada harian ini, Rabu (14/1) sekitar pukul 10.30 WIB seraya menambahkan, mereka yang tinggal di pinggir talud terpaksa mengungsi, karena takut terkena hantaman gelombang.
Menurut Sarjono, sudah hampir sepekan nelayan di desanya tidak melaut karena takut gelombang tinggi. “Kita tidak tahu sampai kapan gelombang berhenti, untuk sementara nelayan kita kerja serampangan dulu, beberapa memberanikan diri kerja di TI apung dekat pantai,” katanya.
Pengaman Abrasi
Senada dikatakan tokoh masyarakat Desa Batubelubang, M Arif kepada harian ini, Rabu (14/1) siang. Arif mengatakan, sebagian talud roboh sekitar tiga hari lalu akibat hantaman gelombang. “Makanya sekarang air laut sampai masuk ke jalan,” katanya.
Arif mengkhawatirkan bila tidak segera dipasang pengaman abrasi, Desa Batubelubang akan mengalami musibah seperti tahun 2000. “Waktu itu gelombang besar dan air laut pasang hingga merobohkan TPI (tempat penjualan ikan) di sini,” ungkapnya.
Menurut anggota DPRD Bangka Tengah ini, peristiwa alam kali ini berbeda dengan tahun-tahun lalu. Biasanya gelombang pasang terjadi pada bulan Desember, namun sekarang bergeser hingga bulan Januari. Arif bersama beberapa nelayan mengusulkan, dibangun pemecah ombak karena mereka meragukan kekuatan talud. “Talud tidak akan kuat menahan gelombang besar. Harus dibuat pemecah ombak di perairan kita, sehingga talud dan jalan tidak rusak,” sarannya.
Lebih lanjut baik Sarjono maupun Arif berharap agar warga yang sedang kesusahan mendapat bantuan. “Minimal ada bantuan sembako lah kepada nelayan, terutama yang terkena musibah. Karena sekarang mereka tidak bisa kerja ,” harapnya.
Pantauan harian ini, terjangan ombak di pesisir Batubelubang melewati talud pembatas. Kebanyakan nelayan hanya bisa melihat terjangan ombak menghantam perahu mereka.
Rugi Puluhan Juta
Bukan hanya nelayan Batubelubang, nelayan Kurau pun banyak kehilangan bagan. Namun, Kaur Pemerintahan Desa Kurau Barat, Nurdin Halid mengaku belum tahu persis jumlah sebenarnya. “Namun informasinya belasan, semuanya rusak berat dan hanyut, tidak dapat digunakan lagi,” kata Nurdin kepada harian ini, Kamis (15/1).
Total kerugian pun Nurdin tidak tahu. “Tapi untuk membuat bagan butuh uang sekitar Rp 20 juta,” ungkapnya. (j1/rya/g18)