Bisnis & Keuangan
Bantuan Para Nelayan tak Merata
- Gunakan Modal Sendiri
- Pertahankan Budaya Gotong Royong
edisi: 12/Mar/2010 wib
k10
Nelayan Mandiri Tanpa Bantuan: Buton (46), warga Desa Rambat, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, satu dari nelayan di desa ini, bertahan secara mandiri, kendati 20 tahun belum menerima bantuan. Foto diambil kediaman Buton, Tak jauh dari bibir Pantai Desa Rambat, kecamatan Simpang Teritip.
MUTNOK, BANGKAPOS — “Tak Ada Rotan Akarpun Jadi”, ungkapan sederhana ini sempat dilontarkan sejumlah nelayan Desa Rambat, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat.
Memaknai ungkapan itu, dikarenakan sejak puluhan tahun melaut, para nelayan belum menerima bantuan secara merata, dari pemerintah daerah setempat. Kendati demikian, para nelayan tetap menjalankan profesinya seperti biasa, meski harus mengeluarkan modal cukup besar, dengan membeli jaring tangkapan, boat dan perahu.
Kepala Desa Rambat, Kecamatan Simpang Teritip, Herman Sawiran, saat ditemui Bangka Pos Group, dikediamannya Selasa malam (9/3), mengatakan memang nelayan di desa ini bantuannya belum merata. Selama tahun 2007, bantuan berupa 10 unit boat dan mesin 5 VK, bantuan disalurkan lagi berupa jaring tahun 2008 dan di tahun 2009 bantuan disalurkan lagi 5 unit boat dan mesin 5 VK.
Menurutnya, jumlah bantuan ini sebenarnya dinilai tidak sebanding dengan jumlah nelayan di Desa Rambat. Karena, hal tersebut sempat menjadi persoalan beberapa waktu lalu.
“Nelayan desa ini, memang tak berharap banyak bantuan. Dari dulu gunakan modal sendiri (mandiri-red),” jelas Herman.
Ia menambahkan, kebanyakan nelayan masih mempertahankan budaya gotong royong. Misalnya untuk membuat bagan pinggir, nelayan akan kerjasama dengan nelayan lainnya. Cuma untuk bagan tengah, terpaksa harus menggunakan jasa upah.
“Bagan pinggir menghabiskan dana Rp 7 juta, sedangkan bagan tengah bisa mencapai Rp 40 juta hingga Rp 50 juta,” ungkapnya.
Upah tukang bisa dalam satu hari Rp 100 ribu. Kebanyakan nelayan di Desa Rambat, secara turun temurun menjalani profesi nelayan, secara mandiri.
“Terkadang nelayan pinjam uang dengan bos (tauke) untuk modal melaut,” kata Herman. Sejak hasil tangkapan menurun, sebagian nelayan beralih profesi sebagai pekerja Tambang Inkonvensional (TI). Namun, masih ada juga yang bertahan menjadi nelayan.
Herman mengungkapkan, beberapa bulan lalu, pernah satu unit Kapal Isap yang mau membuka kegiatan penambangan dikawasan laut Desa Rambat. yakni PT Sarana Marindo. Pemdes Desa Rambat sempat negosiasi mengenai kontribusi. Namun, duluan warga di Desa ini, menolak. Penolakan warga, karena kawasan laut Desa Rambat, belum pernah dilakukan penambangan oleh kapal isap.
“Semua kita serahkan pada warga, jika warga tidak setuju dan imbasnya besar, kita batalkan saja,” tegas Herman. (k10)
Modal Belum Kembali
BANYAK pengalaman manis maupun pahit dirasakan, Buton (46), warga Desa Rambat, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat. Saat ditemui Bangka Pos Group, Kamis (11/3), Buton menyatakan, dirinya untuk melaut hanya menggunakan jaring seadanya.
Meski sudah 20 tahun sebagai nelayan, dirinya belum pernah menerima penyaluran bantuan baik berupa boat, jaring dan mesin. Karenanya, untuk memperoleh perlatan melaut, ia membelinya dengan modal sendiri, seperti untuk membuat kapal ukuran 6-7 meter, pukat, dan boat. Uang yang digunakannya untuk membeli itu semua dengan uang yang dimilikinya selama ini dengan hasil menabung bertahun-tahun.
“Kita meminjam dengan tauke yang membeli hasil tangkapan. Pembayaran diambil dari potongan hasil tangkapan,” ucap Buton.
Kalau tidak meminjam, kemana dirinya harus memperoleh uang tersebut. Untuk kapal, jaring, boat hingga lengkap semuanya harus mengeluarkan modal Rp 30 juta.
Buton mengungkapkan, karena menggunakan dua mesin, satu kali melaut, ia harus mengeluarkan modal lebih kurang Rp 500 ribu.
“Hasil tangkapan kurang, modal terkadang gak kembali,” Ucapnya (k10)
|