Table './u5609_bapos_2007/tb_comments' is marked as crashed and last (automatic?) repair failedTable './u5609_bapos_2007/tb_comments' is marked as crashed and last (automatic?) repair failed
BangkaPos.cetak :: Gerbang Informasi Kepulauan Bangka Belitung
JAKARTA, BANGKA POS -- Tingginya Capital Inflow dan ditambah modal asing yang masuk ke Indonesia yang diperkirakan masih deras dalam beberapa bulan kedepan, mendorong kurs rupiah menguat lebih tinggi terhadap dolar AS. Dalam beberapa bulan kedepan rupiah akan menguat sampai ke Rp 9000 per dolar AS.
Namun menjelang akhir tahun akan kembali melemah ke Rp 9.400 per dolar AS.
“Capital inflow saat ini masih kuat, sehingga rupiah akan terus menguat sampai Rp 9.000 per dolar AS dalam beberapa bulan ke depan,” ujar Executive Director Emerging Market Strategy UBS Securities Indonesia, Nizam Idris, Selasa (9/3).
Penguatan nilai mata uang diprediksi tidak hanya akan terjadi di Indonesia. Mata uang di sejumlah negara tetangga juga berpeluang menguat karena adanya kebijakan-kebijakan pemerintah pasca krisis yang mendukung penguatan nilai tukar mata uang mereka.
Saat ini rata-rata nilai tukar rupiah berada dikisaran Rp 9.298 per dolar AS. Menurut prediksi Nizam, dalam satu bulan ke depan rupiah akan bergerak ke level Rp 9.250 dan semakin menguat pada tiga bulan ke depan menjadi Rp 9.200 hingga kemudian menyentuh Rp 9.000 per dolar AS.
Hanya saja, di akhir tahun kondisi rupiah diperkirakan kurang menggembirakan. Rupiah diperkirakan akan melemah menjadi Rp 9.400 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah ini karena terjadinya penguatan dolar AS.
Nizam memperingatkan pemerintah agar tetap hati-hati dalam menyikapi derasnya modal masuk ke Indonesia seperti yang terjadi saat ini. Sebab bagaimanapun aliran modal asing ini merupakan hot money yang berpotensi menimbulkan goncangan ekonomi dan membahayakan nilai tukar rupiah bila sewaktu ditarik kembali secara besar-besaran.
“Nilai yang cukup besar. Pada awal tahun saja aliran modal masuk sudah mencapai Rp 7 triliun. Dan ini masih berlanjut dalam beberapa waktu ke depan, sehingga akan menguatkan nilai tukar rupiah,” katanya.
Dalam kesempatan kemarin Nizam menyatakan dukungannya atas kebijakan Bank Indonesia yang mengubah sistem lelang SBI dari mingguan ke bulanan. Dengan kebijakan itu, hot money yang ada bisa tertahan sampai sebulan.
“Kalau tadinya (modal asing itu) bertahan mingguan, kini bisa lebih lama tinggal di Indonesia,” ujar dia. Dengan tertahannya modal asing itu lebih lama, bisa dimanfaatkan untuk kredit usaha atau menyokong kegiatan ekonomi secara keseluruhan. (Persda Network/ugi)